Ilustrasi. (baktinusa.id)

Oleh: Yonatan Y. Anggara

ZNEWS.ID JAKARTA – Boleh jadi, lemah adalah bentuk yang paling dihindari oleh setiap makhluk yang ada di semesta. Rangkaian makhluk menghidari sifat ini tumbuh pada dirinya. Jangan lemah! Menguatlah, membesarlah, jangan tumbang.

Tunggu dulu, nampaknya tidak ada satu makhlukpun yang ingin menjadi lemah. Namun, bagaimana jika kondisinya ada manusia yang justru terlahir akrab dengan kata lemah?

Bagaimana dengan mereka yang lemah sejak lahir? Atau, bagaimana dengan mereka yang dilemahkan dengan amanah-amanah yang dipikul, di sudutkan oleh keterbatasan-keterbatasan? Apakah hal ini jauh dari potensi kebaikan?

Namanya Halimah binti Al-Harits As Sa’diyah. Seorang wanita asli Bani Sa’ad yang tengah melangsungkan perjalanan menuju Makkah. Seorang wanita baik hati yang tengah mengendarai keledai yang beberapa kali terperosok dan terluka.

Musim panas di gurun itu bertambah panas dengan kelaparan yang mencabik-cabik perutnya. Begitu pula air susu yang sedikit. Padahal, tujuannya ke Makkah adalah mencari anak persusuan.

Wanita yang lemah ini tiba juga di Makkah. Namun, setelah beberapakali berkeliling, tidak ada seorang pun yang mau melihat ke arah wanita lemah ini untuk mempersusukan anaknya.

Sampai ia mengetahui ada seorang bayi lemah, bayi yatim yang nasibnya sama dengannya. Bayi cucu Abdul Muthalib itu tidak ada yang mau mengasuhnya. Apa yang diharapkan dari seorang bayi yang lemah finansialnya?

Hingga sebelum pulang ke Bani Sa’ad, Halimah berbincang dengan suaminya Al Harist ibn abdil Uzza.

‘’Demi Allah, aku akan pergi ke anak yatim itu, dan pasti akan mengambilnya,” katanya.

‘’Lakukanlah, Semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu,” ujar suaminya.

Lantas, Halimah pergi ke sana dan mengambilnya.

Siapa sangka 1400 tahun kemudian, bayi yatim hasil susuannya itu membawa risalah yang diyakini oleh 1,59 miliar penduduk bumi.

Siapa sangka, 1400 tahun setelah keterpaksaannya itu, sang bayi yatim menjadi pendamai kekisruhan di Madinah. Penumbuh dari yang patah dan penyambung dari semua yang tercerai.

Siapa sangka, beberapa waktu kemudian, bayi yatim yang di campakan oleh wanita-wanita dari Bani Sa’ad itu membawa agama yang pernah menguasai dua pertiga peradaban dunia hanya dalam 30 tahun saja

Pada kata berkah lah semua berhenti. Berkah adalah puncak dari gunung-gunung kebaikan. Adalah berkah, setiap kebaikan yang bertambah dengan kebaikan lainnya, setiap kebajikan yang bertumbuh dengan kebajikan setelahnya.

Dari halimah yang lemah kita belajar tentang berkah. Ketabahan halimah sang wanita lemah untuk tetap mengambil bayi yatim cucu Abdul Muthalib sebagai anak sususan adalah bimbingan Allah untuk menemukan puncak kebaikan, berkah.

Maka, tidak mengapa lemah ingatan, lemah fisik, lemah hafalan. Asal, berkah menjadi tujuan. (baktinusa.id)

LEAVE A REPLY