ZNEWS.ID JAKARTA¬†— Seorang perawat sebut saja namanya Indah, 23 tahun, menangis terisak di salah satu sudut ruang rumah sakit, ia menyepikan diri untuk membuang seluruh sesak di dada. Hari itu ia merasa senang karena mendapat izin off setelah berhari-hari menjaga pasien PDP Covid19.

Ia berjibaku dan sudah seperti setrikaan bolak-balik dari pasien satu ke pasien lainnya. Ia setia mengikuti anjuran dokter yang didampinginya. Lelah, letih dan gerah sudah tidak terperikan lagi, karena alat pelindung diri yang dipakai sudah seperti pakaian astronot ke luar angkasa, panasnya bukan main.

Belakangan sejak Covid19 merebak, jadwal kerja Indah sudah tidak normal, bahkan yang biasanya diberlakukan shift, sekarang tidak begitu, semua tenaga medis baik dokter dan perawat disiagakan. Indah termasuk perawat yang harus siaga melawan Corona.

Tentu saja ketika waktu rehat diberikan, untuk sekedar bisa melepas lelah dan memulihkan tenaga dengan senang hati ia terima. Ia seakan baru keluar dari ruang sempit yang menyesakan dada. Ia terasa bebas dari rantai yang mengikat. T

Terbayang baginya di rumah kosnya yang tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bertugas, ia akan mandi air hangat. Setelah itu menggati pakaian dan menselonjorkan tubuhnya di kasur yang ia rindukan sambil memeluk guling yang selalu setia menunggunya.

Tapi apa yang terjadi, baru saja Indah sampai di pintu pagar, ibu kos sudah berada di depan pintu. “Indah jangan masuk, maaf jangan pulang dulu ke kos, selama wabah Corona belum berakhir. Kami takut tertular.”

Indah terpaku di depan pagar. Ia seperti terkena petir di siang bolong. Suara ibu kos meletus di gendang telinganya menghunjam ke dalam dada, sesaat ia merasakan efek pneumonia di paru-parunya. Napas sesak dan nyawanya terasa terbang ke angkasa. Sesaat kemudian, Indah kembali tersadar dan mencoba menguasai diri. Ia bernapas normal, setelah menghirup udara sangat dalam melepasnya melalui mulut.

Ia memahami ketakutan yang dirasakan ibu kosnya, seperti ia memahami betapa menakutkan hantu yang bernama COVID-19 ini yang ia hadapi sehari-hari di rumah sakit.

Ia menyaksikan betapa kesepiannya pasien yang suspect COVID-19 ini diisolasi. Di saat sakit, biasanya anggota keluargalah yang jadi penguat, tapi kalau sakitnya karena Corona, pasien tidak boleh dijenguk. Yang mendamping pasien hanya Indah dan perawat lain bersama para dokter yang merawatnya.

Itu pun hanya di saat tindakan atau pemberian obat. Bahkan -maaf– ketika wafat pun, jenazah pasien COVID-19 hanya diselenggarakan beberapa petugas yang ditunjuk. Bahkan sampai saat jenazah dikubur, pihak keluarga hanya bisa melihat dari jauh.

Karena kondisi itulah Indah memahami apa yang dikatakan ibu kosnya. Tanpa ada kata-kata, Indah mengayunkan langkah beratnya untuk kembali ke rumah sakit tempat dia berkerja. Sudah terbayang baginya ia akan kembali istirahat di ruang perawat rumah sakit, yang sejak pandemi Corona terasa sempit karena semua perawat disuruh masuk berkerja. Namun ia tidak langsung ke ruang itu, untuk sesaat Indah memilih menyepi untuk membuang rasa sedih dan sesaknya.

Kisah ini mungkin hanya sebuah ilustrasi, namun sebenarnya itulah fakta yang sedang terjadi. Seperti ungkapan yang disampaikan dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Erlina Burhan.

Ia menceritakan, ada perawat di rumah sakitnya yang belum berkeluarga dilarang pulang oleh ibu kosnya lantaran dikhawatirkan menularkan virus corona. “Ada perawat kami yang belum berkeluarga yang kost menceritakan dilarang ibu kost pulang ke rumah,” ujarnya.

Tak hanya itu. Menurut Erlina, ada juga anak dari perawat di rumah sakitnya yang diminta oleh tetangganya untuk tidak main ke rumah tetangga tersebut. Sebab, ibu anak tersebut bekerja di rumah sakit dan merawat pasien corona sehingga dikhawatirkan menularkan COVID-19 itu.

Pada bagian lain, Erlina mengungkapkan, ada dokter muda yang tidak berani pulang ke rumahnya lantaran khawatir jika pulang akan menularkan ke orang tuanya.

“Sudah berjibaku (melawan corona) menyimpan rasa rindu kepada orangtua,” pungkasnya.

Dikatakannya, dokter dan tenaga medis merupakan ujung tombak dalam melawan virus Corona, Covid-19. Namun, alat pelindung diri (APD) kurang memadai membuat tim medis sangat rentan tertular.

Di RS Persahabatan saja, menurut Erlin, stok APD hanya cukup untuk satu pekan lagi.

“Kami mau (merawat pasien), kami harus, harus dan mau, tolong difasilitasi. Kita juga manusia biasa, punya anak, punya keluarga,” ujarnya dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne Jakarta, Selasa (24/3/2020). Semua terdiam mendengar curhatan Erlina di saat itu.

Tanda Cinta dari Gubernur DKI Jakarta

Agaknya keluhan yang disampaikan Erlina sudah berkelindan dalam pikiran Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Ia menyadari betul, betapa beratnya pejuang medis dalam masa pandemi Covid19 ini. Gubernur menyiapkan hotel untuk pahlawan tersebut. Agar mereka yang diberi waktu istirahat, tidak lagi tidur di  rumah sakit.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah menginapkan sekitar 138 tenaga medis yang menangani pasien virus corona (COVID-19) di Jakarta di sebuah hotel milik Pemerintah Provinsi DKI. Ratusan tenaga medis itu berasal dari RSUD Tarakan dan Pasar Minggu.

“Hari ini, 138 tenaga medis dari RSUD Tarakan dan RSUD Pasar Minggu mulai menempati hotel Grand Cempaka Business,” kata Anies dikutip dari akun Facebook-nya, Kamis (26/3/2020).

Anies memastikan tak hanya tenaga medis di RSUD Tarakan dan Pasar Minggu yang akan diinapkan di hotel secara khusus. Menurutnya, ada ratusan tenaga medis dari sejumlah rumah sakit lainnya yang bakal menyusul dipindahkan ke hotel.

Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu menyebut para tenaga medis adalah pihak yang paling rentan terpapar virus corona. Oleh karena itu, perlu penangan dan perhatian khusus bagi para tenaga medis.

“Tenaga medis yang mengurusi pasien COVID-19 adalah pejuang yang tugasnya terbesar, terberat dan paling berisiko terpapar. Wajahnya tertutup masker, tapi perannya terlihat dengan nyata,” tuturnya.

Anies menambahkan, selain Hotel Grand Cempaka Business, pihaknya tengah menyiapkan tiga hotel lainnya milik BUMD Jakarta. Hotel Grand Cempaka milik PT Jakarta Tourisindo itu mempunyai 220 kamar dengan kapasitas 414 tempat tidur.

“Dalam waktu dekat tiga hotel milik BUMD DKI juga akan segera menyusul, dengan jumlah total 261 kamar tambahan dan 361 tempat tidur,” ujarnya.

Seperti dikutip dari CNN, Pemda DKI akan menambahkan fasilitas pendukung khusus untuk melayani dan melindungi para tenaga medis. Menurutnya, setiap kamar para tenaga medis akan dibersihkan dengan disinfektan secara rutin.

Tidak hanya diberikan fasilitas menginap, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menuliskan pesan berisi ungkapan terima kasih pada secarik kertas yang ditujukan kepada para tenaga medis yang tengah menangani pasien terpapar Virus Corona (COVID-19).

Surat yang ditujukan bagi tenaga medis itu, ditaruh di atas meja yang ada di kamar-kamar hotel di mana tenaga medis diinapkan. Berikut bunyi suratnya

Jakarta, 26 Maret 2020

Terima kasih kami kepada pejuang kemanusiaan

Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera

Ibu, bapak dan rekan-rekan yang saya banggakan. Atas nama seluruh warga Jakarta izinkanlah saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk segala pengorbanan dan keikhlasan Ibu, Bapak, dan rekan-rekan telah berjuang turun tangan melayani warga Jakarta menjalani masa yang sulit. Perjuangan yang sangat mulia yang penuh tantangan dan risiko

Perjuangan inilah yang menguatkan harapan bahwa Insya Allah kita akan dapat segera melewati masa penuh cobaan ini.

Pada Ibu, Bapak, dan rekan-rekan semua, kami di Pemprov DKI Jakarta dan atas nama seluruh warganya menyampaikan rasa hormat, mengirimkan dukungan penuh dan tetap terus mendoakan.

Mohon sampaikan salam hormat kami pada keluarga di rumah. Katakan pada mereka Jakarta bangga pada Ibu, Bapak, dan rekan-rekan semua.

Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan serta tetap memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran pada ibu, bapak, dan rekan-rekan dalam menuntaskan misi mulia ini.

Wassalam

Anies Baswedan

Dengan perlakuan pemerintah DKI Jakarta terhadap tenaga medis ini, tentu akan mampu mengubah Indah, perawat dan dokter serta tenaga medis lain dapat tersenyum dan tidak lagi bersedih hati, walaupun belum bisa menghilangkan beban berat pertaruhan nyawa dalam mengobati pasien-pasien yang terpapar Covid19. Dan, senyuman ini akan terus mengambang di semua tenaga medis apabila langkah yang dilakukan Anies Baswedan ini diikuti pemimpin daerah lain di Indonesia. Semoga. (Maifil Eka Putra)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY