Corona Lebih Kecil dari Nyamuk

Oleh: Prof Dr HM Muhammad Amin Suma SH MA MM (Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa, Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional MUI, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Bismillahir-Rahmanir-Rahim
Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih – Maha Penyayang

Pengantar

ZNEWS.ID JAKARTA – Alquran, yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, 6000 ayat lebih; menurut ‘Atha bin Yasar (19 – 103 H), jumlah kata-katanya ada 77.439; sedangkan hurufnya, kata Mujahid (21 – 104 H/642-722 M), berjumlah 321.180 – 323.740.

Semua kita tahu, surah terpanjang adalah Al-Baqarah (2), terdiri atas 281 – 283/285 ayat, 6121 kata, dan 25.500 huruf dalam catatan Abd al-Mun’im. Unik dan menariknya, di Al-Baqarah ini pula ada ayat terpanjang.

Persisnya ayat 283, dengan rincian kata 128 dan 504 huruf menurut Al-Zarkasyi (1344 – 1392 M). Ayat 26, yang akan dibedah dalam tulisan ini, pastinya bukan ayat terpanjang itu, meskipun bukan pula ayat pendek.

Inipun lebih tertuju pada kata “…ba’udhatan fa-ma fauqaha” yang cuma 3 kata dan 39 huruf. Setara dengan 0,0039 persen dari keseluruhan kata, dan 0,0012 persen dari keseluruh huruf Alquran.

Ada yang masih belum yakin dengan kemukjizatan Alquran? Itu soal lain di luar bahasan utama. Yang jelas, Pencipta Corona adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa!

Bedah (bagian) ayat 26 surah Al-Baqarah
انّ الله لايستحيي أن يضرب مثلامابعوضة فمافوقها

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk, atau yang lebih rendah dari itu. Yakni, Allah tidak akan (pernah) segan, sungkan, ewuh-pakewuh, apalagi merasa malu untuk membuat perumpamaan walau dengan hanya mengangkat tema -seekor nyamuk (ba’udhah).

Karenanya, Allah tidak akan pernah meninggalkan hal-hal yang seperti itu. Jika perlu dengan yang lebih kecil dari ba’udhah.

Apa itu ba’udhah/nyamuk? Dalam KBBI: Nyamuk adalah serangga kecil bersayap, yang betina memiliki sepasang sungut yang dipakai sebagai pengisap darah (manusia dan binatang), bertelur di air yang tergenang.

Ba’udhah -menurut Abd al-Mun’im dan lain-lain- adalah serangga kecil yang memiliki dua sayap yang sangat dikenal itu. Di luar nyamuk, ternyata masih ada “serangga” yang lebih kecil lagi, sebagaimana ditunjukkan Alquran dalam kata “fa-ma fauqaha.” Dipastikan jumlahnya banyak.

Salah satunya adalah (binatang) “Virus,” yaitu “mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan [hanya] menggunakan mikrosop biasa, [karena] hanya [bisa] dilihat dengan menggunakan mikrosop electron, penyebab dan penular penyakit, seperti cacar, influenza (KBBI).

Sama halnya dengan nyamuk: ada nyamuk gajah, nyamuk harimau, nyamuk malaria, dan bahkan nyamuk pers [cuma pribahasa], virus juga ada virus Epstein-Barr, virus Coxsackie, dan lain-lain.

Yang sedang “manggung” sekarang adalah virus Corona, yakni virus baru yang dapat menimbulkan gejala yang beragam, mulai dari pilek hingga sakit parah, dan bahkan berakibat pada kematian. Dahsyatnya, tingkat penularannya yang konon teramat cepat.

Menurut Dr. Imam Teguh Saptono (Dosen IPB), “Virus Corona berasal/bersumber dari kelelawar,” yang dikategorikan ke dalam “binatang liar”. Lawan binatang liar adalah hewan ternak; yang dalam Alquran disebut Al-An’am.

Khususnya untuk binatang berkaki empat dan berkuku lebar – cepak, seperti kambing, kerbau/lembu, dan unta. Hewan-hewan model itu dan yang sejenis dengannyalah yang dihalakan untuk dikonsumsi.

Begitu penting eksistensi binatang ternak bagi kehidupan umat manusia (khususnya mukminin-mukminat), sampai-sampai diabadikan sebagai nama surat Alquran. Tepatnya surat “Al-An’am/Cattele/Binatang Ternak,” atau surat ke-6 yang terdiri atas: 165 ayat, 3052 kata, dan 12,422 huruf.

Surah Al-An’am mengingatkan manusia agar hanya mengonsumsi binatang-binatang yang “halalan-thayyiban,” salah satunya kelompok binatang ternak. Di zaman modern sekarang, binatang ternak tentu tidak semata-mata untuk binatang-binatang berkaki empat yang disebutkan di atas.

Namun, bisa dikembang-biakkan, mengingat jenis binatang begitu banyak. Sebaliknya, Alquran tidak menolerir (mengharamkan) orang-orang beriman “menyantap” binatang buas dan/atau hewan liar semisal ular dan kelelawar.

Manakala di antara manusia masih banyak yang tidak mengindahkan Alquran, maka pertanyaannya “salahkah kalau Allah mengatakan diri-Nya tidak akan sungkan untuk “memperoduk” serangga kecil semisal laba-laba (al’ankabut), lalat (dzubab/dzubabah), dan nyamuk (ba’udhah)?

Tentu, bergantung cara orang memandangnya. Banyak orang yang tetap berpikir positif dan logis dengan tetap mengimani bahwa semua itu adalah benar sebagai hak (prerogatif) Allah (annahu al-haqqu min rabbihim); namun bersamaan dengan itu, tidak sedikit pula manusia yang menyangsikan bahkan mempertanyakan apa maunya Allah membuat semua ini?

LEAVE A REPLY