Tuhan Tak Sungkan Turunkan Corona yang Mematikan

Oleh: Prof Dr HM Muhammad Amin Suma SH MA MM (Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa, Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional MUI, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

ZNEWS.ID JAKARTA – Adalah Alquran (Al-A’raf (7): 180, Thaha (20): 28, dan Al-Hasyr (59): 24) yang menginformasikan kepada kita (manusia), bahwa Allah ‘Azza wa-Jalla memiliki nama-nama terbaik (al-Asma’ al-Husna’; beautiful names) dalam jumlah yang banyak (99 atau lebih).

Dalam hal manusia membutuhkan Allah, maka kita dipersilakan untuk menyebut-Nya dengan menggunakan nama terbaik Allah yang manapun (Q.S. Al-Isra’ (17): 110).

Lepas dari apakah kata lain di luar kata-kata Arab-Alquran seperti God (bahasa Inggris) termasuk ke dalam salah satu nama-nama terbaik Allah dimaksud, yang jelas bangsa Indonesia selain fasih melafalkan kata Allah (dan al-Asma’ al-Husna pada umumnya), juga sudah terbiasa dan melegenda menyebut kata Tuhan. Lengkapnya, Allah Yang Maha Kuasa danatau Tuhan Yang Maha Esa (UUD NRI 1945).

Itulah salah satu yang menginspirasi (anak) judul tulisan di atas, selain terutama ayat-ayat Alquran yang akan dijadikan landasan dalam penulisan lebih lanjut.

Pijakan Ayat:
۞إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak akan segan untuk membuat perumpamaan (masal) berupa nyamuk atau yang lebih rendah (kecil) dari itu. Adapun orang-orang beriman, maka mereka yakin (sepenuh hati) bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’. Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah, kecuali orang-orang yang fasik”. (Al-Baqarah (2): 26)

Penyebab turun (sabab nuzul) ayat di atas, dikarenakan ulah (sebagian kafir Makkah dulu) ada yang mengolok-olok masal/misil atau perumpamaan Alquran yang diturunkan sebelum ini. Terutama surah al-Hajj (22): 73 dan al-‘Ankabut (29): 41, yang masing-masing mengangkat lalat dan laba-laba sebagai perumpamaan.

Sayangnya, Amtsal (perumpaman-perumpamaan) Alquran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Makkah dan sekitarnya ketika itu, tidak bermakna apapun bagi mereka. Alih-alih mereka menerimanya dengan senang hati, justru dijadikan olok-olok atau meme-meme murahan karena menganggap masal Alquran yang didengarnya itu tidak lebih dari berita hoaks.

Mereka tidak memandang sebagai informasi yang memiliki nilai kebahasaan yang bernilai lebih (al-baligh) dengan isinya yang sungguh bermutu tinggi. Pasalnya? Mereka –kaum kafirin Makkah– memandang hal yang tidak logis kalau Allah menjadikan hewan sejenis laba-laba dan lalat sebagai bagian dari wahyu-Nya.

Atas sanggahan (sebagian) mereka itulah, maka Allah turunkan ayat 26 surah Al-Baqarah. Selain guna menepis olok-olok atau meme-meme mereka, juga sekaligus dalam rangkan memperkuat eksistensi perumpamaan masal (al-Amtsal) yang sudah ada dalam Alquran.

Sekurang-kurangnya dengan perumpamaan semacam itu, ternyata lahir cabang ilmu tertentu dalam Ulumul Quran, bernama ‘Ilmu Amtsal Alquran’ (Ilmu tentang perumpamaan dalam Alquran).

Belum lagi dihubungkan dengan kebenaran isi kandungan masal itu sendiri, yang ternyata memiliki nilai abadi dalam pengertian tetap koneks dengan berbagai peristiwa dan kondisi yang terjadi kapan pun. Persis seperti pepatah lama yang masih punya makna “Sejarah itu berulang.”

Seperti dikatakan Pak Rizal Ramli (RR), wabah atau pandemi virus reratanya terjadi sekali dalam setiap kurun waktu 100 tahun. Akan halnya wabah virus-virus lain waktu dulu, maka sungguh relevan manakala kita mencoba memahami (sedikit) virus Corona dari sudut pandang Alquran. Terutama dari aspek teologi dan sejarah (al-Qashash) yang masih tetap relevan.

Salah contoh kasusnya adalah kasus virus Corona yang sedang “menyandera” agama, negara, dan dunia dalam beberapa pekan atau nulan terakhir ini.

Ke depannya? Penulis tidak mengetahui sampai berapa lagi? Yang jelas, semua pihak termasuk kita semua tetap berharap sepenuh perasaan, mendoa sepuas hati, dan berusaha semampu daya, agar (bencana) virus Corona tidak sampai lama-lama.

LEAVE A REPLY