Dompet Dhuafa Aceh bekerja sama dengan Islamic Institude of Aceh (IIA) mengadakan kajian surah Kitab Lapan di balai pengajian Alfussalam, Lamgugop, Kota Banda Aceh, Jumat, 13 Maret 2020. (Foto: DD Aceh)

ZNEWS.ID BANDA ACEH – Dompet Dhuafa Aceh bekerja sama dengan Islamic Institude of Aceh (IIA) mengadakan kajian surah Kitab Lapan di balai pengajian Alfussalam, Lamgugop, Kota Banda Aceh, Jumat, 13 Maret 2020.

Ketua pengurus IIA Syah Reza mengatakan, kegiatan ini adalah bukti konkrit kepeduliannya terhadap khazanah budaya. Kitab Lapan, kata dia, adalah buah karya yang dihasilkan oleh ulama-ulama Aceh, yang patut dijadikan referensi keilmuan.

Selama ini, lanjut Reza, Kitab Lapan masih menjadi literatur keilmuan yang dipelajari di dayah-dayah tradisional di Aceh, bahkan Malaysia. Akan sangat baik pula ketika kajian kitab ini juga diikuti oleh masyarakat.

“Kita harus melestarikan budaya pengajian semacam ini. Apalagi yang kita kaji adalah kitab Arab Jawi (Jawo), mengingat saat ini ejaan Jawo nyaris tenggelam, tidak dilestarikan. Padahal, dahulu, justru ejaan ini yang digunakan oleh bangsa kita,” ujarnya.

Menelusuri budaya, sebab sosial, budaya, dan dakwah menjadi salah satu pillar program Dompet Dhuafa Aceh. (Foto: DD Aceh)

Kitab Lapan merupakan sebutan umum untuk kitab Jam’u Jawami’ Musannifat. Akumulasi dari delapan kitab, yakni Kitab Hidayatul ‘Awam karya Syeikh Jalaluddin bin Kamaluddin Asyi, Kitab Kasyful Kiram dan Kitab Talkhishul Falah karya Syeikh Muhammad Zain bin Jalaluddin Asyi, Kitab Faraidh al-Qur’ân, yang tidak tertera nama pengarangnya, Kitab Syifaul Qulub karya Syeikh ‘Abdullah Baid Asyi, Kitab I’lamul Muttaqin karya Syeikh Jamaluddin bin Syeikh ‘Abdullah Asyi, dan Kitab Mawaizhul Badi‘ah karya Syeikh ‘Abdur Rauf Fansuri Assingkili, atau yang lebih dikenal dengan nama Syiah Kuala.

Diharapkan pula, melalui kegiatan ini dapat meningkatkan kembali semangat masyarakat Aceh untuk mengaji, memperdalam ilmu agama. Mengingat, hal-hal yang dikandung dalam kitab ini sangat komplit, baik itu fiqh ibadah, tauhid, bahkan fiqh muamalah.

Sementara, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh dr Nuril Annissa Niswanto mengaku sangat bahagia dengan terlaksananya pengajian ini.

“Kita berkomitmen untuk menggalakkan jalannya proses belajar Islam. Karena, menelusuri budaya, sebab sosial, budaya, dan dakwah adalah salah satu pillar program Dompet Dhuafa,” ujarnya.

Salah satu budaya menuntut ilmu agama khas Aceh ini perlu dilestarikan dan diperkenalkan ke generasi muda. (Foto: DD Aceh)

Nuril menambahkan, Dompet Dhuafa Aceh mendukung penuh salah satu budaya menuntut ilmu agama khas Aceh ini. Dan, menurutnya, kegiatan ini perlu dilestarikan dan diperkenalkan ke generasi muda.

“Perempuan ke perempuan, sebab perempuan Aceh sedari dulu juga aktif menuntut ilmu. Sebagai bagian dari memahami kewajiban seorang muslimah,” terangnya.

Kajian Surah Kitab Lapan ini diajakan setiap dua minggu sekali. Diisi oleh Ummi Darmiana, yang latar belakangnya adalah seorang pengajar di Dayah Ruhatil Fatayah, Seulimum. Ia juga pembina di Balai Pengajian Saadatul Fatayah di Gampong Lambaed.

“Sebenarnya, tujuan dari pendidikan seyogyanya adalah untuk menjadikan kita taat kepada Allah. Mengenal siapa Tuhan kita, dan bagaimana cara mengimplementasikan keimanan kita itu dalam kehidupan sehari-hari, yang sesuai dengan aturan Allah. Makanya, mengaji semacam ini sangat penting sekali,” tuturnya. (DD Aceh)

LEAVE A REPLY