FGD TB_1

ZNEWS.ID JAKARTA — Kesehatan merupakan dimensi utama dari target pembangunan berkelanjutan. Keberadaan lembaga zakat sebagai salah satu institusi pengelola dana umat memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas sosial yang berkembang dimasyarakat. Dengan semangat tersebut Dompet Dhuafa menginisiasi pertemuan dan diskusi dengan lembaga zakat–filantropi Indonesia untuk memajukan kesehatan masyarakat Indonesia dalam program “Eliminasi Tuberkulosis (TB) 2030“ di Jakarta, Rabu (18/12/2019).

“Sejak tahun 2013 bersama beberapa CSO/NGO lainnya telah tergabung bersama dalam Stop TB Partnership Indonesia untuk kerja yang lebih terkoordinasi dan massif. Dompet Dhuafa menyadari bahwa kerja besar ini tidak mungkin dapat dilakukan sendiri bahkan terpisah-pisah. Karenanya, Dompet Dhuafa berperan aktif menginisiasi kolaborasi dan aliansi strategis dengan Lembaga kemanusiaan lainnya untuk turut berkontribusi membantu pemerintah dalam upaya eliminasi TB 2030,” ucap  dr Yenny Purnamasari, GM Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa.

FGD TB_3TB merupakan penyakit menular yang masih menjadi beban besar bagi bangsa Indonesia. Dampak yang ditimbulkan bagi pasien, keluarga dan masyarakat yaitu penularan, sosial dan ekonomi.

Setiap hari hampir 4500 orang meninggal dunia akibat TB dan 30 ribu orang menderita penyakit TB yang sebenarnya bisa dicegah dan diobati. Secara global sudah dilakukan usaha untuk melawan penyakit TB dan sudah menyelamatkan 54 juta jiwa sejak tahun 2000 dan rerata mortalitas akibat TB menurun sebanyak 42 persen.

Saat ini, Indonesia masih harus menyelesaikan beberapa agenda yang belum terselesaikan (unfinished agenda ) dalam Millenium Development Goals (MDGs) untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals) 2016-2030. Sebagaimana disebutkan dalam Permenkes nomor 74 tahun 2015 tentang Upaya Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit, bahwa promosi kesehatan harus dilaksanakan dalam bentuk yaitu pengembangan kebijakan publik yang berwawasan kesehatan, penciptaan lingkungan yang kondusif, penguatan gerakan masyarakat, pengembangan kemampuan individu dan penataan kembali arah pelayanan kesehatan.

FGD TB_2“Indonesia adalah negara ketiga di dunia dengan beban TB terbanyak setelah India dan Cina yaitu 845 ribu penduduk. Berdasarkan data TB Indonesia tahun 2017, mortalitas akibat TB adalah 107 ribu atau rerata 40 per 100 ribu penduduk, insidens 845 ribu atau rerata 319 per 100 ribu penduduk. Ini merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Upaya pemerintah dalam mencegah TB sudah maksimal. Penyebaran penyakit TB jauh lebih cepat ketimbang pemulihan.

Indonesia telah menargetkan untuk eliminasi TB di Indonesia pada tahun 2030, artinya hanya 1 per sejuta kasus TBC. Jika jumlah penduduk Indonesia saat itu 300 juta maka hanya 300 orang saja yang menderita penyakit TBC dalam setahun.” Ucap dr Imran Pambudi, MPMH, Kasubdit TB Kemenkes.

Tuberkulosis atau TB masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Selain itu terdapat tantangan yang perlu menjadi perhatian yaitu meningkatnya kasus TB – MDR, TB – HIV, TB dengan DM, TB pada anak dan masyarakat rentan lainnya. Hal ini memacu pengendalian TB secara nasional terus dilakukan melalui upaya-upaya intensifikasi, ekstensifikasi, akselerasi dan inovasi program.

Berdasarkan laporan WHO 2017 diperkirakan terdapat 842 ribu estimasi kasus di Indonesia, namun yang terlaporkan di Kementerian Kesehatan sebanyak 446.732 kasus dengan tingkat keberhasilan penobatan sebesar 86%. Adapun untuk TB-MDR di Indonesia terdapat 3.119 kasus, TB Anak sebanyak 52.929 kasus, dan TB-HIV sebanyak 7.729 kasus. TB merupakan penyakit yang dapat diobati (curable) sekaligus dapat dicegah (preventable), oleh karena itu, salah satu program dari WHO untuk menanggulangi penyakit TB yaitu dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcouse) yang merupakan strategi yang telah diadopsi lebih dari 180 negara dan sebagai pendekatan yang paling tepat dan hemat biaya.

Program eliminasi TB bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi,  tangung jawab segenap komponen lintas sektor dan multi stakeholder. Peran Lembaga zakat sangat strategis dan sejalan dengan mandatnya dalam pengentasan kemiskinan. Upaya strategis dan konkret sangat penting dilakukan untuk mengelaborasikan seluruh potensi yang ada pada lembaga-lembaga zakat agar manfaat zakat lebih optimal dirasakan baik untuk muzakki terlebih lagi untuk mustahik. Upaya kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat, mengintegrasikan dan memperbesar terjalinnya sinergi antar-organisasi pengelola zakat anggota FOZ dalam upaya eliminasi TB 2030.

“Lembaga Amil Zakat & Organisasi Filantropi adalah lembaga swadaya masyarakat yang berkhidmat dalam pelayanan dan pemberdayaan masyarakat, Lembaga Amil Zakat dan Organisasi Filantropi pun memiliki akses dan jaringan yang luas di seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara. Melalui jaringan tersebut maka Lembaga Amil Zakat dan Organisasi Filantropi di Indonesia kiranya dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya eliminasi TBC 2030. Peran aktif Lembaga Zakat & Organisasi Filantropi Indonesia secara lanjut diharapkan dapat mengisi gap kesenjangan sosial ekonomi, dukungan sanitasi dan nutrisi serta meningkatkan produktivitas pasien TB selama dan pasca pengobatan melalui 3 pilar utama program yaitu pelayanan, pembelaan dan pemberdayaan pasien dan masyarakat.” Ucap Bambang Suherman, Ketua Forum Zakat.

FGD TB_4

Dompet dhuafa yang konsen dengan bidang kesehatan telah mendapatkan penghargaan Mitra Bhakti Husada dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2014. Pada tahun 2016 Dompet Dhuafa terpilih sebagai lembaga penerima penghargaan Ramon Magsaysay Award.

Melalui LKC Dompet Dhuafa telah melakukan program penanggulangan penyakit TB sejak tahun 2004- 2019 bermitra dengan kementerian kesehatan, PB Aisyiah, LKNU dan mitra Dompet Dhuafa lainnya. Kegiatan ini fokus program pada pemberdayaan masyarakat berupa TB komunitas dengan kegiatan berupa pelatihan dan pemberdayaan kader TB, kontak investigasi, active case finding dan membentuk pusat informasi TB masyarakat yang berada di Pos Sehat dan Desa/kelurahan di wilayah program TB serta konfirmasi diagnostik, edukasi dan pelatihan PMO serta pemantauan pengobatan sampai sembuh di layanan satelit kesehatan Dompet Dhuafa.*

LEAVE A REPLY