(Foto: makmalpendidikan.net)

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan dan Founder Ekselensia Tahfizh School

ZNEWS.ID BOGOR – Satu hal utama yang kita usahakan dan doakan dalam hidup ini adalah memeroleh keberkahan. Hidup berkah, pasti penuh makna. Harta berkah, pasti banyak memberi manfaat. Pun dengan sekolah berkah, pasti banyak melahirkan anak-anak didik shalih dan shalihah.

Ya, keberkahan adalah permata kehidupan. Namun, seolah keberkahan perlahan-lahan mulai menjauh dari kehidupan umat ini. Saya ingin memfokuskan pembicaraan ini di tataran lembaga pendidikan (baca: sekolah).

“Ustaz, saya sedang galau nih,” demikian curhat seorang guru.

“Antum galau kenapa?” tanya saya.

“Saya mengajar Pendidikan Agama Islam dan Tahfizh di sekolah. Namun, ketika ada olimpiade dan Ujian Nasional, mata pelajaran saya seringkali dikalahkan untuk memberikan tambahan jam pelajaran bagi mata pelajaran yang diolimpiadekan dan di-UN-kan,” tutur si guru.

Saya hanya menjawab, “Saya khawatir sekolah antum kehilangan berkahnya.”

Terkadang kita keliru dalam memprioritaskan suatu hal dalam kehidupan ini. Contoh di atas adalah salah satunya. Padahal, kita bisa membuat mekanisme agar pelajaran PAI dan Tahfizh tidak menjadi “korban”.

Contoh lain, ketika anak-anak digenjot habis-habisan aspek intelektualnya, namun ala kadarnya dalam membina aspek iman dan akhlaknya, maka saya khawatir sekolah seperti ini pun kehilangan berkahnya.

Sama halnya dengan sikap sebagian orang tua masa kini. Pengalaman memimpin sekolah Islam di Tangerang Selatan menampilkan fakta memilukan. Ketika guru kami menyampaikan kepada seorang wali murid bahwa anaknya “bermasalah” dalam mata pelajaran math, sains, dan english, maka si wali murid langsung sigap berkomitmen, “Saya akan memasukkan anak saya ke bimbel, bu guru.”

Namun, ketika guru kami menyampaikan bahwa anaknya “bermasalah” pada kedisiplinan salat dan menghafal Alquran, si wali murid hanya menjawab santai dan kurang serius dalam bekerja sama membina anaknya dalam aspek salat dan menghafal Alquran. Maka, dalam hal ini, saya khawatir keluarga wali murid itu kehilangan keberkahan.

Demikian halnya, pada sebuah sekolah elit, manajemen sekolah yang lebih menghormati uang orang tua daripada menghormati guru-gurunya. Sehingga, sekolah menuruti apapun kemauan orang tua siswa dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan guru. Saya juga khawatir sekolah seperti ini kehilangan keberkahan.

Oleh karena itu, kita harus meluruskan kembali paradigma pendidikan agar keberkahan itu hadir di sekolah-sekolah kita. Supaya keberkahan itu juga menyertai anak didik kita. Juga agar keberkahan itu melingkupi semua yang terlibat dalam lembaga pendidikan kita. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:

Pertama, utamakan ilmu-ilmu agama. Tujuan kita diciptakan ke bumi adalah untuk beribadah kepada Allah. Menjadi hamba yang ta’at. Maka, bina dan didik anak-anak agar menjadi hamba yang ta’at kepada Tuhannya. Menjaga ibadah dan menampilkan akhlak mulia. Karena itu, ajarkan iman dan tauhid, akhlak dan ibadah, serta ilmu-ilmu agama lainnya. Alquran dan Hadis sebagai fondasinya.

Setelah itu, baru ajarkan ilmu pengetahuan dan skill kepada mereka untuk menjadi khalifah. Karena, tujuan kedua keberadaan kita di bumi setelah beribadah adalah menjadi khalifah. Ajarkan dan latih anak-anak kita agar menjadi expert dibidangnya masing-masing.

Dengan demikian, ia bisa berperan memberikan kemaslahatan bagi umat sesuai bidangnya. Berkarir pada profesi apapun nantinya anak-anak kita, ekonom, pengusaha, pejabat, teknokrat, dan lainnya, mereka adalah seorang hamba yang ta’at.

Kedua, menghormati guru (baca: pendidik sejati). Seorang murid harus diajarkan adab dan sopan santun kepada guru. Bukankah kita pernah mendengar sebuah nasihat, “Hormatilah gurumu jika kau menghendaki ilmu yang bermanfaat.” Demikianlah tradisi dari generasi salih terdahulu. Mereka memuliakan para ahli ilmu. (makmalpendidikan.net)

LEAVE A REPLY