Pu Yi (Foto: wikiwand.com)

Oleh: Rizki Hafidz Muntaz

ZNEWS.ID JAKARTA – Seminggu yang lalu, saya telah menamatkan buku The Last Emperor yang merupakan buku autobiografi dari kaisar terakhir tiongkok, Henry Pu Yi. Sejujurnya buku ini sangat berbeda dari kebanyakan tema bauku yang biasa saya baca berupa ekonomi, islam, ilmu sosial, pertanian dan sebagainya.

Namun, buku ini menjadi menarik karena pengamatan saya terhadap negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang sangat berpengaruh saat ini. Terutama dengan program OBOR yang juga memengaruhi kebijakan-kebijakan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu, saya pikir, buku ini akan menambah wawasan saya mengenai kenegaraan RRT pada awal terbentuknya.

Autobiografi ini bercerita mulai kelahiran Pu Yi, lalu dinobatkan sebagai Kaisar, hingga puncak kemalangan kehidupan beliau, yaitu ditahan karena dianggap sebagai salah satu penjahat perang. Hingga, ia dibebaskan dan hidup dalam keseharian. Namun, hal yang menarik ialah di masa Pu Yi lah, Kekaisaran Tiongkok berakhir.

Lalu, mengapa Kekaisaran Tiongkok bisa berakhir kekuasaannya?

Pu Yi berasal dari klan Aisin Gioro suku Manchu. Ia diangkat menjadi Kaisar sejak umur 2 tahun, karena ditunjuk Janda Permaisuri Cixi. Sejak kecil, ia diperlakukan layaknya seorang anak kecil dan kaisar yang dimanja dengan berbagai fasilitas mewah.

Namun, hal inilah yang menjadi akibat pelemahan dalam kepribadian Pu Yi, yaitu kondisi mewah. Karena pengasuhan layaknya seorang “Dewa” inilah yang menjadikan Pu Yi tidak memiliki suasana kondusif dalam pendidikannya di masa kecil.

Kurangnya kekondusifan masa kecil, berdampak pada kepemimpinan Pu Yi di masa mendatang. Puncaknya ialah ketika pembentukan negara boneka Manchuria, di mana Jepang mengangkat Pu Yi sebagai penguasanya. Kondisi seperti ini sebenarnya yang diinginkan Pu Yi. Di mana, dia ingin adanya restorasi agar dirinya kembali diangkat menjadi Kaisar.

Namun, pada kenyataannya, pengangkatan Pu Yi hanya akal-akalan Jepang semata, untuk mencari dukungan dari Rakyat Tiongkok yang pro terhadap kaisar. Dan, tentu saja, Jepang lebih berkuasa atas Pu Yi dalam kebijaknnya.

Kondisi manajemen kerajaan yang buruk, korup serta budaya konservatif yang tinggi, menjadikan Kekaisaran Tiongkok di masa Dinasti Qing semakin menurun. Kekalahan perang berkali-kali terhadap Jepang, serta munculnya negara Republik Revolusioner semakin melemahkan kekuatan negara.

Ketika Pu Yi menjadi kaisar, dan bertempat di Istana Kota Terlarang, ia pun menyadari, bahwa banyak sekali kekayaan Kerajaan yang hilang terjual begitu saja oleh pejabat-pejabat korup.

Kekacauan Tiongkok tak hanya berhenti sampai di sana. Krisis kepemimpinan dan pejabat-pejabat yang krisis moral menyebabkan runtuhnya Kekaisaran Tiongkok. Pu Yi tak bisa bertahan terhadap gempuran politik, sehingga keputusan-keputusan yang muncul cenderung pragmatis dan merugikan rakyat. Sementara, pejabat-pejabat tiongkok yang krisis moralnya, konservatif, dan korup menjadikan keruntuhan itu semakin cepat terjadi. (youlead.id)

LEAVE A REPLY