Ilustrasi. (Foto: etahfizh.org)

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan dan Founder Ekselensia Tahfizh School

ZNEWS.ID BOGOR – Saat ini, para penghafal Alquran populer disebut sebagai Hafizh. Entah, sejak kapan istilah ‘Hafizh’ digunakan untuk menyebut para penghafal Alquran. Tidak ada data pasti yang bisa menjawabnya.

Namun, yang jelas datanya, pada mulanya istilah Hafizh digunakan untuk para penghafal hadis. Maka, Imam Ibnu Hajar Al-Ashqalani, penghafal dan pensyarah hadis, populer disebut Al-Hafizh Imam Ibnu Hajar.

Lantas, apa sebutan untuk para penghafal Alquran? Istilah yang digunakan adalah Hamilul Quran. Kata “hamil” artinya mengandung, seperti ibu yang mengandung bayi.

Bayinya ada dalam diri si ibu. Maka, Hamilul Quran sejatinya bermakna Alquran seperti inside (ada dalam diri) pada penghafal Alquran. Dalam bahasa yang sederhana: Hamilul Quran berarti orang yang jiwanya Alquran.

Itulah mengapa ketika Bunda Aisyah ditanya, “Bagaimana akhlak Rasulullah?”

“Kana khuluquhul Quran (akhlak Rasulullah adalah Alquran),” jawab Bunda Aisyah. Karena, Rasulullah itu jiwanya Alquran. Alquran benar-benar ada di dalam diri Rasulullah. Tercermin dalam tutur kata, perilaku, dan semua aspek kehidupan beliau.

Bayangkan, demikian mendalamnya makna Hamilul Quran. Maka, bayangkan, andai pendidikan kita menghasilkan para Hamilul Quran. Ini bukan tentang belajar di pesantren, asrama, atau sekolah. Ini tentang bagaimana Alquran diajarkan.

Inilah yang akan menjawab, “Mengapa ada murid/orang yang banyak hafal Alquran, tapi seperti tidak menjiwai Alquran dalam tutur kata dan perilaku keseharian. Sebaliknya, ada murid/orang yang hafalan Alquran-nya tidak banyak, tapi justru seperti menjiwai Alquran.” Wallahu alam. (etahfizh.org)

LEAVE A REPLY