(Foto: institutkemandirian.org)

ZNEWS.ID TANGERANG – Berjalan dari satu sekolah ke sekolah lain sembari menjajakan dagangannya berupa mainan dan penjepit rambut, pernah dilakoni Karyono setiap harinya. Pria kelahiran 1983 ini sudah menjalani pekerjaan itu sejak duduk di bangku sekolah menengah. Bahkan, dia juga pernah berjualan cilok.

Meski peluh dan lusuh selalu hinggap di tubuhnya setiap saat. Karyono tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh semangat. Semua itu ia jalani demi satu harapan. Bertahan hidup.

Tahun 2011, titik balik kehidupan Karyono dimulai. Selembar kertas yang ia temukan di salah satu sekolah tempatnya berdagang, mengubah semuanya.

Kertas itu berisikan informasi pelatihan keterampilan gratis di Institut Kemandirian, lembaga pelatihan yang didirikan Dompet Dhuafa.

Dari situ, Karyono mencoba mendaftar untuk mengikuti pelatihan. Setelah melewati beberapa tes seleksi, dia berhasil lolos dan mengikuti pelatihan.

Selama sebulan, Karyono berusaha keras berlatih. Dia aktif meminta bimbingan dari instruktur agar bisa menjadi seorang teknisi. Hingga tiba saatnya proses magang. Karyono terus bekerja keras siang dan malam.

“Saya terus berusaha untuk memperdalam skill yang saya miliki. Sampai hampir tiap malam begadang untuk memperbaiki handphone yang tak bisa hidup. Pernah juga mencoba memperbaiki Integrated Circuit (IC) hingga 5 kali gagal,” ungkapnya.

Namun, Karyono tak putus asa. Dia pantang menyerah. Ia yakin, pasti bisa. “Rasanya senang banget ketika bisa menghidupkan handphone yang tadinya mati total. Seperti ingin teriak. Yes, bisa hidup!” katanya.

Setelah lulus, Karyono melanjutkan bekerja di tempat magang, sambil menabung untuk mewujudkan mimpinya mempunyai konter handphone sendiri. Dari gaji yang disisihkan per bulan, satu per satu, alat untuk servis handphone dibelinya. Seperti, blower, bor, dan solder.

Hingga akhirnya, Karyono berani membuka usaha konter di tahun 2016. Konter itu ia beri nama “Pandawa Cell”. Usaha konter ini dirintisnya dari awal sekali. Berbekal, pengalaman yang sudah ia jalani ketika bekerja dengan orang lain, dan berusaha membangun kepercayaan pelanggan-pelanggan yang berkunjung ke konternya.

Kini, usaha Karyono mulai berkembang. Inovasi pun muncul untuk memberikan pelayanan plus (tambahan) agar usahanya semakin berkah. Dia menggratiskan tempered glass ketika ada pelanggan yang servis LCD.

Karyono memiliki mimpi, usahanya bisa terus berkembang. Sehingga, dia bisa memiliki karyawan dan dapat memberikan manfaat untuk orang banyak. (institutkemandirian.org)

LEAVE A REPLY