Oleh: Erick Wahyudi, Analis Ekonomi Digital

ZNEWS.ID, JAKARTA — Anda pernah dengar istilah Super App? Kalau sudah, kemungkinan besar Anda mendengarnya dari pihak Gojek via channel mereka di Youtube, blog, atau dari media lainnya. Bukan anda dengar dari negara asal di mana istilah ini menjadi populer: Cina.

Sederhananya, Super App adalah kumpulan aplikasi yang disatukan dalam satu payung aplikasi. Seluruh aplikasi tersebut saling terhubung, dan memberikan user experience yang nyaman. Cukup dengan satu aplikasi segala kebutuhan layanan dapat terpenuhi.

Di Cina, aplikasi besutan Tencent bernama WeChat menjadi Super App yang dipakai lebih dari 1 miliar pengguna. Ada hampir 30 aplikasi tersedia dalam WeChat Pay saja. Di Indonesia, GoJek tampaknya mengikuti jalur yang sama dengan WeChat, yang kebetulan atau tidak, didanai juga oleh Tencent. GoJek pun berhasil. Mereka mengklaim dirinya sebagai Super App pertama di Asia Tengara dengan memiliki lebih dari 18 aplikasi di dalam aplikasi GoJek.

Tidak hanya jargon, GoJek menjadikan Super App sebagai core strateginya. GoJek mengerahkan hampir seluruh resource-nya untuk terus menghasilkan aplikasi dan layanan baru setiap beberapa bulan. Semua aplikasinya direkatkan dalam pilar layanan utamanya: transportasi dan sistem pembayaran. Tujuannya tentu saja agar dapat mendominasi dan memonetisasi pengguna, dan menjadikan GoJek sebagai aplikasi that no one can live without. Persis dengan yang telah diraih oleh WeChat di Cina.

Mengikuti jejak sukses pemain lain dari negara lain adalah sesuatu yang sangat menggoda, namun bisa menyesatkan. Banyak hal tidak bisa ditiru karena karakter pengguna yang berbeda, serta timing yang sudah tidak relevan.

WeChat awalnya mendapatkan puluhan juta penggunanya dari aplikasi untuk chatting. Aplikasi chat adalah satu dari sedikit aplikasi yang memiliki network effect yang sangat kuat. Semakin banyak penggunanya, semakin sulit untuk orang lain menolak menggunakannya (baca juga: http://znews.id/2019/09/07/valuasi-gojek-vs-garuda-penjelasan-renald-khasali-bikin-saya-gagal-paham/).

Hal ini berbeda dengan GoJek. GoJek mendapatkan traction luar biasa dari ride-hailing, yaitu pemesanan ojek motor. Ride-hailing tidak secara alamiah memiliki network effect yang kuat dan tidak dapat menjamin loyalitas penggunanya.

WeChat tidak membutuhkan subsidi yang besar untuk mempertahankan user base melalui aplikasi chat. Pengguna sudah semakin sulit pindah ke aplikasi chat lain. Sebaliknya, GoJek harus terus melakukan subsidi besar untuk mempertahankan user base pengguna layanan transportasinya. Sebentar saja subsidinya dihentikan, pengguna langsung pindah aplikasi. Super App jadi tidak super lagi.

Pilar kedua dari Super App GoJek adalah GoPay. Pilar ini lebih powerfull dibandingkan dengan transportasi. Di Cina, sistem pembayaran WeChat Pay juga sangat diandalkan untuk menjadikan WeChat sebagai Super App. Dari blog GoJek sendiri juga dinyatakan: “The biggest moat GOJEK built is payments. Once you’re handling money for a user, you can build a castle of services within it.

Ya, itu argumen yang valid. Sistem pembayaran merupakan layanan yang fundamental dan universal, sehingga dapat dibangun aplikasi apa pun di dalamnya. Tapi seberapa tangguh moat (parit) itu dapat menahan gempuran sistem pembayaran kompetitor seperti OVO, Dana dan LinkAja? Jawaban paling mudah: tergantung cashback. Sekali lagi, defensibility-nya lemah. Pengguna dapat dengan mudah pindah ke aplikasi lain.

Dari 18 aplikasi yang ada di dalam Super App GoJek, yang paling menguntungkan adalah GoFood dan GoPay. Unit transportasi, termasuk GoSend, dibiarkan terus merugi untuk mempertahankan user base dan menarik pengguna baru. Belasan aplikasi lainnya biasa-biasa saja, bahkan ada yang dianggap gagal.

Lalu, apabila hanya beberapa aplikasi yang menguntungkan, mengapa aplikasi lainnya tidak dihilangkan saja? Dengan merampingkan aplikasi harusnya GoJek dapat lebih efisien dan lebih cepat meraih profitability. Kompleksitas masalah teknis juga akan sangat jauh berkurang.

Tentu saja jawabannya: we are Super App! Semua pasti ada jalan. Segala layanan harus ada dalam aplikasi GoJek. Tidak boleh memberikan celah bagi kompetitor baik besar maupun kecil. Kompetitor besar harus di-challenge (dengan cashback?), kompetitor kecil harus dirangkul untuk diakuisisi. Dan ini semua mutlak membutuhkan suntikan dana super besar.

Keberadaan Super App tergantung pada seberapa bagusnya masing-masing aplikasi di dalamnya, bukan karena adanya integrasi dalam satu Super App. User experience yang paling berpengaruh hanya dalam hal memudahkan pengguna untuk cukup melakukan satu kali download untuk mendapatkan banyak aplikasi. Dalam hal ini, Super App tidak lebih dari sekadar distribution channel untuk aplikasi-aplikasi GoJek, dan sekaligus sebagai etalase yang megah untuk menarik investor.

Ini semua kembali lagi bermuara pada sumber penyakit startup: ideologi growth at all cost (baca juga: http://znews.id/2019/09/20/saatnya-investor-beralih-dari-unicorn-ke-kuda-zebra/). Semakin banyak portfolio aplikasi, semakin besar akumulasi jumlah pengguna, semakin besar jumlah GMV/GTV (Gross Merchandise Value / Gross Transaction Value). Dan ujungnya: semakin besar valuasi perusahaannya. Valuasi yang membengkak ini merupakan senjata utama investor untuk mendapat keuntungan besar melalui exit, dengan cara menarik investor lain di later-stage.

Size does matter. Dalam hal ini, strategi Super App menggiring GoJek untuk mengerjakan segala hal. Padahal, tidak ada satu pun perusahaan di dunia yang unggul di segala bidang. Dengan ambiisi super besar ini, hanya akan ada dua kemungkinan: berkembang dan benar-benar profitable, atau malah berkembang melebihi kapasitasnya dan akhirnya pecah. Hanya ada dua kemungkinan itu: jackpot atau bubar.

Pertaruhannya ada dalam waktu 2-3 tahun ke depan, saat GoJek diharuskan IPO oleh para investornya. Apakah Super App berhasil mendongkrak fundamental bisnis atau akan memaksa GoJek memangkas valuasinya besar-besaran. Hanya investor yang kurang kritis yang akan tergoda berinventasi di later-stage dengan harapan valuasinya terus melejit dan berhasil exit mendapatkan jackpot.

Memang, valuasi perusahaan dapat menjadi source of superpower, namun dapat berbalik menjadi kryptonite.

 

 

“Super App”, Mesin Judi Investor Gojek?

Email: err.why.di@gmail.com

LEAVE A REPLY